Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Desember 2014

Posted by Unknown On 13.07
Sastra Jawa pertengahan dalam Sejarah Sastra dan Kebudayaan

            Dalam periodisasi sastra Jawa, sastra Jawa pertengahan menduduki periode tersendiri. Hal ini bisa dilacak dari pusat perkembangan sastra Jawa, pada zaman Singasari dan Majapahit. Namun demikian tidak semua karya yang dihasilkan pada waktu itu termasuk sastra Jawa pertengahan. Sebab pada saat itu penulisan karya sastra berbahasa Jawa Kuna dalam bentuk kakawin maupun prosa masih tetap berlangsung. Zaman Majapahit karya jawa berbahasa kuna dalam bentuk kakawin maupun prosa masih tetap berlangsung. Zaman Majapahit karya sastra bernafaskan islam telah bermunculan terutama didaerah pantai utara pulau  Jawa.menanggapi masalah tersebut zoetmulder (1983) mengatakan bahwa sastra Jawa pertengahan bukan merupakan lanjutan dari sastra Jawa kuna. Pertengahan bukan merupakan lanjutan dari sastra Jawa Kuna. Sebab pembagian secara kronologis dan berdasarkan bahasa kurang mendukung hipotesis ini. Oleh sebab itu untuk menentukan harus selektif dan hati-hati.
            Worsley (1970) bertolak dari penelitian yang menitikberatkan pada karya sastra yang ada hubungannya dengan sejarah tetapi tidak bisa dipisahkan sebagai sastra secara totalitas, dan dianggap sebagai sastra yang integral. Dengan analisis bentuk, tema peran dan gaya salah satu karya sastra, seorang peneliti dapat mengetahui tujuan pengarang sewaktu mencipta dan mengetahui pandangan tentang dunianya baik secara makro maupun mikro. Bertolak dari pendapat di atas mungkin penelitian dapat dikembangkan pada karya-karya sezaman dan sejenis secara teoritis diharapkan dapat disusun sejarah sastra yang agak lengkap dengan menggunakan sumber yang berasal Jawa maupun Bali.
            Sementara itu, pembicaraan tentang sastra, memerlukan devinisi yang kongkret. Namun demikian teori sastra yang dikembangkan diBarat tidak relevan untuk membicarakan sastra tradisional di Asia Tenggara. Dalam hal ini ilmu Antropologi cukup menolong. Sastra dapat dianggap sebagai sistem yang mempunyai fungsi tertentu bagi masyarakat pendukungnya. Tentang sastra Jawa bisa mendukung penyesuaian antara manusia dengan masyarakat. Untuk menjawab masalah tersebut, peneliti beranggapan bahwa sastra merupakan sesuatu yang aktif dalam masyarakat bukan hanya merupakan objek yang perlu dipelajari dan dikaji seperti ilmu sastra dan filologi.
            Sastra mempunyai jangkauan yang sangat luas, meliputi tulis, lisan bahkan dipertontonkan. Dalam hal ini penonton sepenting pelaku. Bahkan batin seseorang mendorong untuk menciptakan karya sastra, yang memberikan dasar ideology. Dalam sejarah sastra jawa karya-karya sastra Jawa pertengahan yang dikemukakan oleh para ahli terutama Poerbatjaraka (1957 dan Worsley (1970,1971) bahwa sejarah atau ‘historical’ dan sebagian besar merupakan kidung sejarah. Untuk memberikan nama tersebut tentu saja berdasarkan analisis bentuk dan isi yang diteliti.
            Cerita panji merupakan salah satu karya sastra yang dapat dipakai sebagai sumber sejarah. Rassers (1922) meneliti cerita panji sebagai disertasi berjudul De Panji Roman dengan pendekatan instruktural. Dari penelitian itu disimpulkan bahwa cerita Panji terdapat berbagai versi, dan sangat luas, tetapi semua lengkap. Para sarjana mengatakan bahwa cerita Panji merupakan siklus. Tetapi setelah Rasles mengajukan pendapatnya bahwa Cerita Panji bukan siklus, dengan alas an setiap versi lengkap dan bukan merupakan lanjutan dari yang lain, mereka menerima dan mengakuyi. Karena setiap cerita, masing-masing lengkap.
            Berdasarkan pendapat Rassers tersebut dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa memiliki falsafah yang sangat tinggi. Salah satu diantaranya adalah pandanga tentang dunia. Pada saat itu terdapat penggoongan atau klasifikasi menjadi dua yang bertentangan  tetapi saling melengkapi  dan mempunyai kedudukan yang sama. Pandangan ini menurut pendapat Rassers sudah ada sebelum masyarakat Hindu juga memiliki pandangan yang sama.
            Selain itu beberapa karya sastra memberikan bukti. Pengarang dianggap sebagai wakil masyarakat. Kalau tema, bentuk, peran dan gaya telah disepakati, bagaimana peran penikmat dan masyarakat. Robson menyatakan bahwa ada dua sumber pokok tentang aspirasi masyarakat pada saat itu. (1) frekuensi relative penggambaran tema tertentu yang diabadikan dalam relief candi, atau benda purbakala lain, lukisan kain atau kayu. Bila  frekuensi tinggi maka cerita itu mungkin popular,mode sesaat, atau suatu keharusan suatu aliran (agama,penguasa, dan lain-lain). Misalnya diCandi Sukuh terdapat relief Sudamala dan Bhima Swarga. Pada Candi Panataran dipahatkan Krsnayan,Ramayana,Cerita panji, Cerita binatang, dan Sri Tanjung. (2) Berdasar penelitian filologis dari karya sastra yang lebih mudah peneliti dapat menarik kesimpulan sejauh mana karya sastra dapat menggema dihati masyarakat. Kalau sebuah karya sastra menyebut judul karya sastra Klasik, mungkin karya yang disebut cukup popular dikalangan masyarakat. Misalnya : Wangbang wideha menyebut empat karya Wignotsawa, Gathutkacasraya, Kresnayana dan Arjunawiwaha.
            Dalam sejarah sastra jawa periode sastra Jawa Pertengahan hanya menampilkan beberapa karya sastra hasil penelitian ahli. Sedangkan karya-karya lain banyak yang belum didokumentasikan. Karya-karya itu belum mendapatkan perhatian dari para peniliti. Apalagi masih dalam bentuk naskah, dengan huruf jawa, berbahasa jawa.
            Dari karya-karya tersebut Cerita Panji menduduki peranan penting karena dapat mewakili karya lain yang muncul pada zaman yang sama dan penyebarluasanya sampai ke mancanegara. Dari segi bentuk sastra Jawa Pertengahan memunculkan bentuk puisi baru, yang menggunakan metrum nusantara yang disebut kidung. Bentuk puisi tersebut merupakan kreasi orang jawa yang tidak berkiblat pada bentuk puisi India maupun Jawa Kuna. Dari segi materi mulai tampak meninggalkan tradisi yang mengikuti sastra Sansekerta. Suansana pedesaan dan diluar istana mulai tampak menghiasi karya sastranya. Demikian juga materi yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat tampak dalam beberapa karya terutama adanya unsure ‘ruwat’ yang menurut poerbatjaraka merupakan unsure kepercayaan Jawa asli, yang sampai sekarang masih dilestarikan baik lapisan bawah maupun atas. Kepercayaan ini merupakan upacara yang sangat sacral dan religius.
            Sastra jawa Pertengahan dalam sejarah kebudayaan, para ahli berpendapat  bahasa sastra merupakan bagian dari Kebudayaan. Oleh sebab itu, dalam karya sastra juga merekam situasi budaya masyarakat pendukungnya, dengan demikian sastra jawa pertengahan bagian dari sastra jawa tidak lepas dari aspek budaya masyarakat pada zaman karya itu ditulis sesuai dengan pendapat bahwa pengarang merupakan wakil masyarakat. Kalau kita membaca kidung maupun karya yang berbentuk prosa pada periode sastra jawa pertengahan banyak bahan yang menggambarkan kebudayaan yang tertuang dalam karya sastra sebagian besar merupakan kebudayaan istana, puri, keluarga raja.  Mengapa? Sebab kebudayaan masyarakat diluar istana banyak yang belum ditulis, dan sebagian besar masih dalam bentuk sastra lisan. Kecuali itu karya sastra yang berhasil diteliti didominasi sastra istana. Sebagai  dokumen sosiobudaya sastra jawa pertengahan mengangkat nilai-nilai budaya yang berkembang disekitar pengarang.
            Dalam kidung yang telah diteliti, terdapat berbagai macam budaya, antara lain: (1) Kebudayaan material atau artefak seperti pakaian ,perhiasan, bentuk rumah, bangunan dan sebagainya. (2) Kebudayaan masyarakat kraton, termasuk keluarga raja, semua punggawa, dengantingkatan kehidupan yang diatursedemikian rupa, sesuai dengan tingkatannya. (3) kesenian terutama pertunjukan yang bersifat dramatis, music, sastra ,dsb (4) upacara, misalanya perkawinan yang ada kaitannya dengan kepercayaan dan agama serta upaca lainnya. (50 Kebudayaan masyarakat pedesaan, khususnya suasana dipertapaan, dengan berbagai situasi yang tentram, damai dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan, yang tampak dalam Sri Tanjung dan berbagai karya lain yang belum diteliti.


             Buku Sastra Jawa Pertengahan

Sabtu, 20 Desember 2014

Posted by Unknown On 15.07
NOMINA

1.       BATASAN DAN CIRI NOMINA
A.        BATASAN NOMINA
Nomina atau kata Benda merupakan kata yang menerangkan nama barang-barang secara kongkret dan abstrak (Patmosoekatjo, 1986:108). Selanjutnya Poedjosoedarmo (1979:77) menambahkan bahwa kata benda atau nomina adalah kata yang mandiri, dalam kalimat tidak tergantung kata lain, misalnya orang, tempat, benda, kualitas dan tindakan.
B.          CIRI-CIRI NOMINA
Ciri-ciri nomina dilihat dari 3 hal yaitu:
a.       Perilaku morfologis
Ciri yang bersifat morfologis ada dan patut diperhatikan sejauh kata tersebut berbentuk polimorfemis yakni gabungan dua buah morfem atau lebih. Ciri nomina berdasarkan perilaku morfologis sbb :
-          Afiks pembentuk nomina yaitu:
paN- = pambujuk                                     pa-/-an  = pasugatan
pa-     = pawelig                                         pi-/-an    = pitulungan
pi-       = pitutur                                          pra-/-an  = prapatan
praN-/an = panyuwunan
-          Konfiks ka-/-an, sufiks –an, dan sufiks –e
Contoh : karisedenan, kalurahan, (namun ada konfiks ka-/-an tidak elamanya membentuk nomina seperti kawelasan dan kadumungan yang berkelas verba) sementara itu sufiks-an yang berkelas nomina biasanya berkorespondensi dengan kata duwe, misalnya duwe dolanan, namun ada juga sufiks-an yang berkelas verba misalnya : dolanan dan sabukan, ini dapat dibuktikan dengan mengkombinasikan kata-kata tersebut  dengan mbok kowe.
b.      PERILAKU SINTAKSIS
a.       Dalam kalimat berpredikat verba, nomina menduduki fungsi S (jejer) atau  O (lesan).
Contoh : ibu adhang sega atau sega didhang Ibu
b.      Pengingkaran terhadap nomina tidak memakai ora, melainkan dudu “bukan”, terutama dalam kalimat tunggal atau kontruksi yang bukan ideometik. Jadi yang ada adalah semacam  : sing digawa dudu buku bukan sing digawa ora buku.
c.       Nomina lazimnya dapat diikuti oleh kata yang berkelas adjektiva (kata sifat), baik dengan atau tanpa kata pemerlekat sing ‘yang’, contohnya : buku anyar, meja cilik, wong sing pinter , dsb
c.       PERILAKU SEMANTIK
Perilaku semantik ini sebagai pengacu terhadap unsur kenyataan yang berupa manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, gagasan, pengertian, dan yang lain sejenisnya besera segala dimensi yang dimiliki dan dapat disebut dengan kata.
2.       SUBKATEGORI, BENTUK, MAKNA DAN SISTEM MORFOLOGI NOMINA
1.       SUBKATEGORI NOMINA
Sesuai dengan ciri-ciri yang ada, berbagai nomina dapat dikelompokkan menjadi subkategori, yaitu:
a.       Berdasarkan kegandaan morfem pembentuknya, terdapat nomina monofermis dan polimorfemis.
b.      Nomina tunggal dan tidak tunggal.
c.       Nomina generik dan spesifik.
d.      Nomina khusus dan umum
e.      Nomina abstrak dan kongkret
f.        Nomina insani dan bukan insani
g.       Nomina nama diri dan bukan nama diri.
2.       BENTUK, MAKNA, DAN SISTEM MORFOLOGIS NOMINA
1.       Nomina murni
Yaitu nomina (kata benda) yang asli dari kelasnya sendiri, tidak terbentuk dari kelas kata yang lain. Nomina ii berupa tembung lingga (L), dwilingga (DL), dwipurwa (DP) atau kombinasi dari masing-masing bentuk tersebut dengan imbuhan tertentu.
a.       Bentuk dan makna nomina murni
b.      Sistem morfologi nomina murni
2.       Nomina nonmurni
Ada tiga yaitu:
a.       Nomina de verbal
1.       Bentuk dan makna nomina de verbal
2.       Sistem morfologi nomina de verbal
b.      Nomina de adjektival
1.       Bentuk dan makna nomina de adjektival
2.       Sistem morfologi nomina de adjektival
3.       Nomina de numeralia
a.       Bentuk dan makna nomina de numeralia
b.      Sistem morfologi nomina de numeralia


 Handout Morfologi Lanjut

Kamis, 18 Desember 2014

Posted by Unknown On 20.08
Morfologi Lanjut Bahasa Jawa
1.    PENGERTIAN KATA
Morfologi merupakan bagian dari ilmu Linguistik. Morfologi biasanya disebut dengan tata kata atau tata bentuk, merupakan kajian gramatikal struktur internal kata (Kentjono 1982 : 39). Pada abad 19 istilah morfologi sebagai bidang linguistik dipahami sebagai studi tentang perubahan-perubahan secara sistematis tentang bentuk kata yang dihubungkan dengan maknanya (Bauer, 1988:4). Oleh karena itu objek kajiannya, morfologi memiliki kajian yang mencakup tentang kata, bagian-bagian kata dan pembentukan kata (Kridalaksana 1992:6)
                Dalam kajian morfologi dijelaskan tentang batasan kata. Sebagaian dari pelaku masih sedikit akan kefahaman tentang kata, sehingga perlu adanya penyelesaian untuk memahami apa itu yang dimaksud dengan kata. Menurut penganut aliran Bloomfield, membicarakan kata sebagai satuan yang disebut morfem, bukan lagi dengan satuan lingual. Sedangkan menurut Chomsky mengutarakan kata merupakan dasar dari kalimat, hanya menyajikan kata itu dengan simbol V (verbal), N (nomina), A (adjektiva) dan sebagainya.
                Berikut  merupakan Ciri – ciri kata :
-          Tidak boleh dipisahkan atau diganti dengan fonem lain.
-          Urutan fonemnya selalu tetap.
-          Dipisahkan oleh dua buah spasi.
-          Memiliki satu atau lebih makna.
-          Setiap kata memiliki kebebasan berpindah tempat dalam kalimat.
-          Posisi kata dalam kalimat dapat diisi atau bisa digantikan dengan kata lain.

2.    KELAS KATA
Dalam pembentukan derivasi dan infleksi, afiks dan kelas kata menjadi landasan teori. Ada delapan kelas kata atau kategori kata dalam bahasa Jawa, yaitu verba, adjektiva, kata tugas, dan interjeksi. Pengkategoriannya berdasarkan perangai sintaksis dan wujud morfemisnya.
                Penentuan kata dilakukan dengan mengamati tiga hal, yaitu :
1.       Bentuk morfologis
2.       Perilaku sintaksis ( Valensi)
3.       Perilaku semantik

3.    PROSES MORFOLOGIS
Proses morfologis sering disebut pembentukan kata. Proses morfologis dalam bahasa Jawa meliputi :
a.       Afiksasi
Merupakan pembentukan kata dengan menambahkan afiks pada bentuk dasar.
b.      Reduplikasi
Merupakan proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan, sebagai (parsial), maupun dengan perubahan bunyi (Chaer 1994:182). Dan reduplikasi dibedakan secara yaitu reduplikasi penuh dan reduplikasi sebagian.
c.       Komposisi
Merupakan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk suatu kontruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau baru (Chaer 1994:185). Komposisi dibedakan menjadi dua, yaitu komposisi sempurna atau penuh dan komposisi tidak sempurna atau sebagian.
d.      Modifikasi
Ada dua, yaitu modifikasi kosong dan modifikasi internal. Modifikasi kosong juga disebut konversi, transposisi, atau derivasi zero, yaitu proses morfologis dari sebah morfem menjadi morfem lain tanpa mengubah unsur segmental, misalnya morfem pacul berkategori nomina dalam kalimat ‘Bapak tuku pacul’ tetapi dalam kalimat ‘pacul dhisik lagi ditanduri kacang’.
e.      Pemendekan
Proses morfologis dengan cara menanggalkan atau memendekkan bagian-bagian morfem atau menghubungkannya sehigga menjadi bentuk singkatan, tetapi maknanya sama dengan makna bentuk utuhnya.pemendekan dibedakan menjadi 4, yaitu:
1.       Singkatan
2.       Kontraksi
3.       Akronim
4.       Aferesi

4.    MODEL ANALISIS MORFOLOGIS
Ada tiga macam model analisis morfologis, yaitu :
a.       model item dan arragement (AI),
b.      item and proses (IP) dan
c.       Word and Paradigm (WP).

5.    PROSES INFLEKSIONAL DAN DERIVASIONAL
1.       Infleksi
Merupakan perubahan bentuk kata tanpa mengubah identitas leksikal kata itu dengan atau tanpa mengubah kelas katanya.
2.       Derivasi
Merupakan proses morfologis yang membentuk leksem baru, dapat mengubah kategori pangkal dan meiliki makna yang tidak tetap.

Handout Morfologi Lanjut




Sabtu, 13 Desember 2014

Posted by Unknown On 19.17

Menulis Geguritan

Bagi seorang pemula, membuat geguritan itu tidaklah mudah karena kita harus pintar merangkai kata berdasar pilihan diksi yang tepat.
Oleh karena itu ggeguritan dibagi menjadi dua, yaitu:
Geguritan Profan, yang berarti geguritan dengan menggunakan diksi sehari-hari sehingga penyampaian maknanya lebih mudah dipahami dan  tetap mengutamakan keindahan dari geguritan tersebut.
Geguritan Prismatis yaitu geguritan dengan menggunakan pilihan kata yang lebih sulit untuk dipahami sehingga memerlukan penggalian secara mendalam untuk memahami makna semantinya.
Menanggapi postingan sebelumnya, dalam membuat geguritan pengarang harus memperhatikan diksi, imajinasi, majas, ritmik dan makna semantiknya. Diksi sangat penting dalam membangun makna semantik yang akan disampaikan oleh pengarang. Diksi ini memberikan makna `lebih' terhadap geguritan. Imajinasi berfungsi untuk membawa pembaca untuk ikut merasakan apa yang disampaikan oleh pengarang. Majas memberikan keindahan estetika dalam penulisan geguritan. Ritmik adalah jatuhnya suara yang membuat geguritan itu enak untuk dibacaa. Geguritan dikatakan berhasil/bagus, jika geguritan tersebut dapat membangun arti dalam makna semantiknya.

Secara garis besar, pembuatan geguritan ditahapkan sebagai berikut:
pencarian ide
pengendapan ide/perenungan (penggalian ide secara mendalam)
penulisan
editing dan revisi
. Cara menulis Geguritan:
a. Mengidentifikasi beberapa pengalaman menarik yang telah dialami.
b. Memilih salah satu pengalaman yang mengesankan sebagai bahan untuk menulis sebuah geguritan.
c. Menentukan dan menulis pilihan kata yang tepat, indah, dan bermakna untuk dijadikan bahan dalam menulis geguritan.
d. Menulis larik-larik geguritan berdasarkan pilihan kata yang tepat.
e. Menyunting geguritan yang telah ditulisnya sendiri maupun yang ditulis temannya.


http://sinausastra.blogspot.com/2013/12/menulis-geguritan.html
Posted by Unknown On 17.05
Kata Sesorah atau medhar sabda dalam bahasa Indonesia berarti menyampaikan sebuah gagasan atau informasi dengan cara mengucapkannya di depan banyak orang untuk tujuan tertentu. Sesorah atau medhar sabda dalam Bahasa Jawa berarti :


Nglairaken gagasan, pemanggih, utawi osiking manah sarana lesan ing sangajenging tiyang kathah, kanthi tujuwan tartamtu. (Rosyidi, Afif Abdul, Basa Jawa kangge kelas XI SMA/MA/SMK semester 2)

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menyampaikan pidato atau medhar sabda. Berikut ini 4 jenis pidato atau sesorah/medhar sabda :

Metode Hafalan (Cara Apalan)
Metode ini dilakukan dengan cara membuat sebuah teks pidato (sesorah/medhar sabda) terlebih dahulu, kemudian teks tersebut dihafalkan hingga sama persis seperti teks pidato (sesorah/medhar sabda) yang sudah dibuat. Metode cukup sulit sebab manusia sendiri rawan lupa. Cara ini biasa digunakan anak anak yang sedang belajar berpidato (medhar sabda).

Metode Naskah atau Teks (Maca Naskah utawi Teks)
Metode ini dilakukan dengan cara membuat naskah pidato (medhar sabda) terlebih dahulu, kemudian teks tersebut dibawa untuk dibaca sebagai bahan pidato (medhar sabda). Metode ini digunakan untuk meghindari kesalahan dalam berpidato sehingga tujuan pidato dapat tercapai dengan baik. Metode ini biasa digunakan dalam acara acara resmi, seperti pidato kenegaraan, peresmian suatu tempat, dll.

Metode Dadakan (Impromtu)
Metode ini dilakukan dengan cara spontanitas. Dalam melakukan metode ini diperlukan pengalaman dan wawasan yang luas untuk disampaikan saat berpidato.

Mambawa Catatan Kecil (Ekstemporan)
Metode ini dilakukan dengan cara membawa sebuah catatan kecil yang berisi garis besar materi pidato yang berfungsi sebagai alat pengingat dalam berpidato, sehingga ketika berpidato tidak melenceng dari materi yang hendak disampaikan.

Buat temen-temen yang lagi kebingungan membuat Pidato Bahasa Jawa Atau disebut dengan Sesorah inilah contoh - contoh sesorah
1. Sesorah Sumpah Pemuda
Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak Kepala Sekolah ingkang satuhu kula bekteni, Bapak/Ibu Dwija saha karyawan SMA Negeri 11 Sembada ingkang satuhu kinurmatan, sarta kanca-kanca ingkang kula tresnani. Ingkang sepisan sumangga kula panjenengan sedaya ngaturaken puji syukur dhateng Gusti Allah ingkang maha welas asih ingkang tansah paring nikmat saha rahmat satemah kula saha panjenengan taksih saged pados ngelmu inggih menika taksih saged sinau wonten ing pawiyatan kita menika.
Kaping kalih, nuwun sewu kula sampun kumawantun jumeneng wonten ngarsa panjenengan sedaya saperlu badhe ngaturaken sesorah bab Sumpah Pemuda. Kula panjenengan sedaya tamtu sampun sami mangertos bilih tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia mengeti dinten Sumpah Pemuda. Inggih menika salah satunggaling kedadosan sakral ingkang nedahaken dhateng sedaya tiyang bilih bangsa Indonesia bangsa ingkang anggadhahi semangat juang, semangat nyawiji bhineka tunggal ika, dados bangsa ingkang jumeneng kanthi jejeg.
Wondene wosipun Sumpah Pemuda inggih menika:
1.Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia
2.Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
3.Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia
Wosipun sumpah saha prasetya menika wajib kula saha panjenengan sedaya jagi saha dipunwarisaken dhumateng putra wayah kagem mujudaken gegayuhan kamardikan saha gesang kanthi gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, adil saha sejahtera. Kita minangka siswa nggadahi jejibahan njagi semangat dalah mempeng anggenipun sinau.  Minangka pemuda kita ugi kedah semangat saha sregep anggenipun nyambut damel ngisi pambangunanipun bangsa.
Menika ingkang saged kula aturaken ngengingi babagan Sumpah Pemuda.  Pramila cekap semanten kemawon atur kula, mbok bilih kathah klenta-klentuning atur kula tansah nyuwun agunging pangaksami.
Wassalammuallaikum Wr. Wb.


2. Sesorah wisudha kelas XII
Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak kepala sekolah ingkang satuhu kula bekteni, Bapak saha Ibu dwija  ingkang satuhu kinurmatan, para rawuh ingkang sinuba ing karaharjan dalasan rayi kula kelas X saha XI saha kanca-kanca kelas XII ingkang kula tresnani.
 Puji syukur tansah konjuk wonten ngarsanipun dhumateng Allah SWT ingkang sampun paring kanugrahan ingkang tanpa kendhat awujud kasarasan, rahmat saha hidayah dhumateng kula panjenengan sami. Pramila awit saking sih nugrahaning Gusti ingkang hakarya jagat kula panjenengan sami ing wekdal menika saged kempal saperlu hangrawuhi adicara ing kalenggahan menika kanthi wilujeng nir ing sambekala.
Kadang kula kelas X saha XI ingkang kula tresnani, sekedhap malih kula sakanca kelas XII badhe nilaraken pawiyatan ing SMA Buana menika. Awit saking menika mbok bilih sadangunipun kula sesrawungan kaliyan sedherek sedaya wonten kalepatan saha kekhilafan ingkang sengaja punapa boten kasengaja kula minangka sulihipun kanca-kanca nyuwun agunging pangapunten.
Wonten mriki kula paring pepeling dhateng rayi-rayi kula sedaya mugi – mugi sasampunipun kula sakanca medal saking pawiyatan mriki rayi kula kelas X saha XI  sageda dados siswa – siswi  ingkang tansah mbangun turut dhumateng Bapak saha Ibu dwija saha dados siswa ingkang pinter saha kreatif.
Rayi kula kelas X saha XI ingkang kula tresnani, kula tansah dedonga saha memuji mugi – mugi rayi kula ingkang taksih wonten ing pawiyatan mriki tansah pinaringan pangayomanipun Allah SWT saha semanten ugi kula nyuwun donga saha pangestu dhumateng para rayi kula mugi – mugi kula saged nglajengaken wonten ing pawiyatan ingkang langkung inggil, wondene ingkang badhe nyambut damel sageda tumunten pikantuk padamelan ingkang trep kaliyan ngelmi saha kesagedanipun piyambak – piyambak.
Wasana, semanten atur kula minangka sesulih saking kanca-kanca kelas XII sedaya,  mbok bilih anggen kula matur wonten kalepatan, kula tansah nyuwun samodra pangaksami.
Wassalammuallaikum Wr. Wb.


3. Sesorah Tanggap Warsa  Sekolah

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak Kepala Sekolah ingkang satuhu kula bekteni, Bapak saha Ibu Dwija ingkang satuhu kinurmatan, saha kanca-kanca ingkang kula tresnani. Puji syukur tansah katur dhumateng Allah SWT ingkang sampun paring kanugrahan, rahmat saha hidayah dhumateng kula panjenengan sedaya, satemah ing wekdal menika kula saha panjenengan sedaya saged kempal kanthi wilujeng nir ing sambekala.
Salajengipun, kula ingkang minangka sesulihipun panitya tanggap warsa SMA Buana ngaturaken sugeng rawuh mugi-mugi rawuh panjenengan saged adamel regenging swasana. Awit saking punika kula ngaturaken gunging panuwun. Boten kesupen kula ngaturaken gunging panuwun ugi dhumateng Bapak kepala sekolah ingkang sampun paring idin palilah murih saged katindakaken sedaya adicara pengetan ambal warsa pawiyatan kita menika. Kula ugi ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa pepindhan dhumateng bapak saha ibu dwija sumrambah karyawan ingkang lila legawa paring eguh pratikel murih pratitising adicara punika. Boten kesupen kula ngaturaken agung panuwun dhumateng kanca-kanca panitya tanggap warsa ingkang sampun paring pambiyantu supados adicara ing kalenggahan menika saged kaleksanan. 
Bapak saha ibu sarta kadang-kadang mitra ingkang satuhu bagya mulya.
Dene wosing gati panjenengan kasuwun rawuh ing pahargyan menika saperlu mengeti dinten ingkang mirunggan menika. Wondene ancas ingkang kinandhut mugi-mugi pahargyan punika saged dados pecuting lampah ing dinten-dinten samangke, ningkataken prestasi tuwin akhlakipun kula panjenengan sedaya mliginipun para siswa SMA Buana menika.
Ing wasana sugeng amriksani ngantos paripurnaning adicara ing wekdal punika, lan  mbok bilih anggen kula matur kathah kalepatan kula tansah nyuwun samodra pangaksami.
Wassalammuallaikum Wr. Wb.

4. Sesorah Dinten Kamardikan
Assalamualaikum Wr. Wb.
               Bapak kepala sekolah ingkang satuhu kula bekteni, Bapak saha Ibu Dwija dalasan karyawan SMA Negeri 11 Sembada ingkang satuhu kinurmatan, saha kanca-kanca ingkang kula tresnani. Saderengipun mangga sesarengan ngaturaken syukur Alhamdulillah wonten ngarsanipun dalem Allah SWT, dene kula panjenengan sami taksih pinaringan rahmat saha hidayahipun, katitik kula panjenengan sekaliyan taksih saged kempal wonten ing papan mriki, saperlu hangrawuhi adicara pengetan dinten Kamardikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wonten ing mriki, kula badhe ngaturaken satunggaling tema Kamardikan Republik Indonesia.
               Kita sedaya mangertos, bilih atusan warsa kita dipunjajah dening bangsa Walanda. Rakyat dipundamel ajrih saha nampi kasangsaran amargi kajajah. Kanthi landhasan tekad saha raos handarbeni dhumateng bangsa saha nagari ingkang kiyat, rakyat Indonesia ngupaya supados saged mardika. Kawontenan menika saged kaleksanan rikala dinten Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Pramila, rakyat Indonesia mengeti saben 17 Agustus minangka dinten kamardikan bangsa kita, kangge pepeling saha mengeti Kamardikan Republik Indonesia ugi pengurbananipun para pahlawan ingkang sampun gugur kangge kamardikaning bangsa kita.
               Awit saking menika kula panjenengan sami kedhah tansah ngaturaken raos syukur awit kanugrahan kasebat. Raos syukur menika antawisipun kawujudaken kanthi acara jalan santai sesarengan satunggal RW, ngecet gapura, pasang umbul-umbul, pasang lampu maneka warni, ugi kerja bakti lingkungan kanthi masang aksesoris merah putih. Lomba ingkang dipunwontenaken, antawisipun panjat pinang, tarik tambang, balap karung, nedha krupuk saha sanes-sanesipun.
               Adicara inti dipunwontenaken tirakatan wonten ing malem tanggal 17 Agustus wonten ing pawiyatan kita menika. Pramila saking menika, kula saha panjenengan sedaya tansah ngaturaken raos syukur ugi nyuwun kaliyan Gusti Allah SWT supados bangsa kita menika dados bangsa ingkang langkung sae.
               Kula kinten kirang wicaksana menawi kathah anggen kula matur. Pramila cekap semanten kemawon atur kula, mbok bilih wonten klenta-klentuning atur, kula tansah nyuwun agunging pangaksami.
Wassalammuallaikum Wr. Wb.

5. Sesorah Dinten Kartini
Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak Kepala Sekolah ingkang dahat kinurmatan, Bapak-Ibu dwija saha karyawan SMA Negeri 11 Sembada ingkang sinudarsana, sarta kanca-kanca ingkang kula tresnani. Mangga kula panjenengan sedaya sareng-sareng ngaturaken puja saha puji syukur dhumateng ngarsanipun Gusti Allah ingkang maha mirah, inggih awit saking kamirahanipun kula panjengan sedaya saged kempal wonten ing adicara pahargyan pengetan dinten kartini ing wekdal menika.
Bapak Kepala Sekolah, Bapak-Ibu dwija saha karyawan SMA Negeri 11 Sembada saha kanca-kanca ingkang kula tresnani. Pengetan dinten Kartini wigatos sanget tumrap kula saha panjenengan sedaya. R.A Kartini ibaratipun kados dene sekar ingkang tansah ambabar ganda arum ing bangsa Indonesia. Labuh labetipun R.A Kartini saestu luhur sanget tumrap kaum wanita. Langkung-langkung ing wekdal menika upaya ingkang dipun tindakaken R. A. Kartini saged ndadosaken kangge majengipun bangsa Indonesia ingkang kita tresnani menika.
Bapak Kepala Sekolah, Bapak-Ibu dwija saha karyawan SMA Negeri 11 Sembada sahakanca-kanca ingkang suka ing basuki. Pancen sampun dados kodratipun wanita limrah nggadahi raos ingkang kalangkung alus. Sanadyan mekaten, greget ing manah tansah makantar pindha waja ngudi kautaman. Sadaya punika inggih awit saking pangaribawa lelabetanipun Ibu Kartini ingkang sampun tumancep saha  ngrembaka ing manahipun wanita Indonesia. Kanthi mekaten menika, sumangga para kadang putri sami saged nglajengaken gegayuhan tuwin lelabetanipun Ibu Kartini ingkang luhur punika. Ingkang boten kenging dipunlirwakaken inggih punika ingkang tansah ngudi jati dhirinipun putri Indonesia. Putri Indonesia ingkang prasaja, mrantasi sadhengah karya.
Mugi-mugi wanita Indonesia saged gesang rukun, mat-sinamat, sih sinisihan, lan sami asah, asih, saha asuh. Cekap semanten atur kula, bilih kathah lepatipun kula nyuwun agunging pangapunten.

Wassalammuallaikum Wr. Wb.


(kapetik saking pinten-pinten sumber kanthi ewah-ewahan saperlunipun)

http://ohbaru.blogspot.com/2014/07/kumpulancontohsesorahpidatobahasajawa.html
Posted by Unknown On 08.11


Macam-macam Tembang Macapat
Sumber Gbr : promojateng-pemprovjateng.com

Tembang macapat ada 11 ( sebelas ) :
Maskumambang
Pocung
Gambuh
Megatruh
Mijil
Kinanthi
Asmaradana
Durma
Pangkur
Sinom
Dhandhanggula
Tembang macapat itu terdiri dari Guru Gatra, Guru wilangan, guru lagu, dan watak.
Guru gatra adalah jumlah baris dalam tembang macapat
Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam tembang macapat
Guru lagu adalah jatuhnya suara di akhir baris tembang macapat
Untuk mengetahui secara jelas maksud guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan, perhatikan contoh tembang macapat – Mijil di bawah ini:
Payo kanca bareng ngudi ngilmi
Mumpung isih enom
Ja katungkul gegojegan wae
Bapak ibu guru wus maringi
Kawruh kang sayekti
Agung gunanipun
===============
Berdasarkan contoh Mijil di atas maka:
Guru gatra berjumlah 6
Guru Wilangan
Pa-yo -kan-ca- ba-reng- ngu-di -ngil-mi = 10
Mum-pung i-sih e-nom = 6
Ja- ka-tung-kul -ge-go-je-gan -wa-e = 10
Ba-pak- i-bu- gu-ru- wus- ma-ri-ngi = 10
Kaw-ruh -kang- sa-yek-ti = 6
A-gung- gu-na-ni-pun = 6
 Guru Lagu :
Payo kanca bareng ngudi ngilmi = i
Mumpung isih enom = o
Ja katungkul gegojegan wae = e
Bapak ibu guru wus maringi = i
Kawruh kang sayekti = i
Agung gunanipun = u

http://kawruhbasa.wordpress.com/2012/01/16/macam-macam-tembang-macapat/

Kamis, 11 Desember 2014

Posted by Unknown On 14.07


Pocung
Basa ngelmu, mupangate lan panemu
Pasahe lan tapa
Yen satria tanah jawi
Kuna-kuna kang ginilut tri prakara
Lila lamun, kelangan noragegetun
Nrima yen kataman
Sak serik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing bathara.
Bathara gung ing nguger jroning jejantung
Jenek hyang wisesa
Sana pasenedan suci
Nora kaya si mudha mudhar angkara.


Gambuh
Sekar gambuh ping catur(7/u)
Kang cinatur polah kang kalantur(10/u)
Tanpa tutur katula-tula katali(12/i)
Kadaluarsa katutuh(8/u)
Kapatuh pandadi awon(8/o)


Sinom
Pangeran kang sipat murah(8/a)
Njurungi kajating dasih(8/i)
Ingkang temen tinemenan(8/a)
Pan iku ujaring dalil(8/i)
Nyatane ana ugi(7/i)
Iya kiyageng ing Tarub(8/u)
Wiwitane nenedha(7/a)
Tan pedhot tumekeng siwi(8/i)
Wayah buyut canggah warenge kang tempa(12/a)


Dhandhanggula
Eling-eling pra kadang den eling(10/i)
Uripa ing ndonya tan lama(10/a)
Bebasan mung mampir ngombe(8/e)
Cinecep nulya wangsul(7/u)
Mring asale sangkane nguni(9/i)
Begja kang wus pana]sangkan paranipun(7/a)
Dedalankang den ambah(8/a)
Mring rahayu lumampah(7/a)



Maskumambang
Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis
Sambaté mlas arsa
Luhnya marawayan mili
Gung tinamêng astanira

Kinanthi
Anoman malumpat sampun,
Praptêng witing nagasari,
Mulat mangandhap katingal,
Wanodyâyu kuru aking,
Gelung rusak awor kisma,
Ingkang iga-iga kêksi.

Pangkur
Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karenan mardi siwi,
Mangka nadyan tuwa pikun,
Yen tan mekani rasa,
Yekti sepi sepa lir asepa samun,
Samangsane pakumpulan,
Gonyak ganyuk nglelingsemi.

Mijil
Jalak uren mawurahan sami, 10 i
Samadya andon woh, 6 o
Amuwuhi malad wiyadine, 10 e
Ana manuk mamatuk sasari, 10 i
Angsoka sulastri, 6 i
Ruru karya gandrung. 6 u
(Haji Pamasa, Ranggawarsita)

Durma
Damarwulan aja ngucireng ngayuda, 12 a
Baliya sun anteni, 7 i
Mangsa sun mundura, 6 a
Lah Bisma den prayitna, 7 a
Katiban pusaka mami, 8 i
Mara tibakna, 5 a
Curiganira nuli. 7 i
(Langendriyan)

http://idnredarmy23.mywapblog.com/contoh-macam-tembang-macapat-bahasa-jawa.xhtml
Posted by Unknown On 13.55
Rumah Kupu - Kupu

Rumah Kupu-kupu UNNES merupakan salah satu bentuk nyata upaya konservasi jenis yang dilakukan oleh Universitas Negeri Semarang. Pada awal perkembangannya rumah kupu-kupu ini hanya lah sebuah tempat kecil teridri hanya dari lab metamorfosa seluas 2×3 m dan juga kandang perkawinan seluas 2×2 m yang di inisiasi dan dikelola oleh Green Community Biologi UNNES. dalam perkembangannya gedung tersebut pun berpindah dan menempati gedung baru yang bertempat di komplek Kebun Wisata Pendidikan dengan bantuan dari Badan Pengembangan Konservasi UNNES pada tahun 2009.
Rumah kupu-kupu ini merupakan sarana bagi siapapun baik masyarakat atau pelajar yang ingin belajar mengenai kupu-kupu. Rumah kupu-kupu ini juga melakukan kegiatan pengembangbiakan dan penangkaran beberapa jenis seperti, Troides helena, Papilio memnon dll yang nantinya akan dilepasliarkan di area Kampus UNNES. adapun fasilitas yang terdapat di Rumah Kupu-kupu antara lain:
1. Laboratorium Metamorfosa
Laboratorium metamorfosa merupakan komponen paling penting dalam pembuatan penangkaran kupu-kupu. Hampir sebagian besar kegiatan penangkaran dilakukan di tempat ini yakni mulai dari perawatan telur sampai dengan menetasnya kupu-kupu dari kepompong.
 2. Kandang perkawinan
Kandang perkawinan merupakan tempat dimana kupu-kupu jantan dan betina melakukan perkawinan. Kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong tidak membutuhkan waktu lama untuk siap memasuki masa kawin. Adanya kandang perkawinan dimaksudkan untuk mempermudah pengawasan serta pengambilan telur.
 3. Taman kupu-kupu
Taman kupu-kupu adalah tindak lanjut dari adanya kandang perkawinan dan Lab. metamorfosa. Terdapat dua macam tipe taman kupu-kupu, yaitu taman tertutup dan terbuka. Rencana ke depan, taman kupu-kupu tertutup akan dibangun di kebun wisata pendidikan Unnes, sedangkan taman kupu-kupu terbuka akan dikembangkan di seluruh lahan terbuka  wilayah kampus Unnes. Adapun jenis tanaman yang dikembangkan untuk pakan kupu-kupu itu di antaranya asoka, sirsak, jeruk, kembang sepatu, dan aristrochia.
4. Ruang display dan Pusat Informasi
Ruangan ini diperuntukan untuk display beberapa jenis kupu-kupu yang telah diawetkan untuk tujuan pembelajaran, ruangan ini juga berfungsi sebagai ruang pusat infromasi pengunjung.
Berikut ini merupakan keanekaragaman dan perilaku dari berbagai jenis Kupu-kupu, diantaranya:
Keanekaragaman Kupu-kupu
-          Terbesar ke-8 di dunia (1900)
-          700 spesies Endemik Indonesia
-          Kupu-kupu termasuk dalam ordo Lepidoptera. Lepidoptera (bersayap sisik)
-          Ada 170.000 lepidoptera di dunia
-          Heterocera (Kupu-kupu malam) ada sekitar 90 persen.
-          Jumlah jenis kupu-kupu yang diketahui didunia sekitar ada 130.000 jenis, ribuan jenis lagi masih belum terdeterminasi
-          Kupu-kupu malam juga biasa disebut dengan ngengat
Perbedaan Kupu-kupu dengan Ngengat :
-          Pada antena Kupu-kupu berbentuk seperti cotton bath, sedangkan antena pada Ngengat seperti daun kelapa
-          Bulu Kupu-kupu jika terkena kulit tidak gatal, namun bulu Ngengat jika terkena kulit gatal
-          Pada proses menjadi Kupu-kupu akan membuat kepompong telanjang (Chrisalys), sedangkan Ngengat membuat selubung yang disebut kokon ( Sutera)
Perilaku Kupu-kupu
-          Menari (pada saat jantan bertemu betina)
-          Patroli
-          Kawin
-          Meletakkan Telur (telur diletakkan khususnya ditanaman)
-          Migrasi
-          Istirahat dan tidur
Kupu-kupu melindungi diri dngan :
-          Kamuflase kupu-kupu
-          Penyamaran menjadi ulat
-          Mimikri ( biasanya pada spesies yang beracun)